Minggu, 12 April 2015

Tantangan SMK

0



BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengangencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yangselaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan prosesmengaktualisasikan semua potensi yang dimiliki menjadi kemampuan yang dapatdimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas.Tingkat keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa dalam mengoptimalkan danmemaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki. Upaya tersebutdapat dilakukan dan ditempuh melalui pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formalmaupun jalur pendidikan non formal. Salah satu lembaga pada jalur pendidikan formal yangmenyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia kerja, diantaranya melalui jalur  pendidikan kejuruan.Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia diantaranya adalah SekolahMenengah Kejuruan (SMK), dirancang untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yangsiap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidangkejuruan. Lulusan pendidikan kejuruan, diharapkan menjadi individu yang produktif yangmampu bekerja menjadi tenaga kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja. Kehadiran SMK sekarang ini semakin didambakan masyarakat; khususnyamasyarakat yang berkecimpung langsung dalam dunia kerja. Dengan catatan, bahwa lulusan pendidikan kejuruan memang mempunyai kualifikasi sebagai (calon) tenaga kerja yangmemiliki keterampilan vokasional tertentu sesuai dengan bidang keahliannya.Kurikulum yang diimplementasikan di SMK saat ini, khusus untuk kelompok  produktif masih menggunakan kurikulum tahun 2004, sedangkan untuk kelompok normatif dan adaptif sudah menggunakan model pengelolaan kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP) 2006. Pada tataran implementasi kurikulum ini mauntut kreativitas guru di dalammemberikan pengalaman belajar yang dapat meningkatkan kompetensi peserta didik, karena betapapun baiknya kurikulum yang telah direncanakan pada akhirnya berhasil atau tidaknyasangat tergantung pada sentuhan aktivitas dan kreativitas guru sebagai ujung tombak implementasi suatu kurikulum. Pendidikan dan pelatihan di SMK; khususnya pada program produktif yang sesuaidengan bidang keahlian, secara ideal dituntut untuk menerapkan pendekatan pembelajaranyang mampu memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik di dalam penguasaankompetensi atau kemampuan kerja sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.Pendekatan pembelajaran tersebut terdiri dari : Pelatihan Berbasis Kompetensi (Competency Based Training ), Pelatihan Berbasis Produksi (Production Based Training ) dan PelatihanBerbasis Industri. Dengan menerapkan pendekatan pembelajaran ini diharapkan mampumemberikan pengalaman belajar kepada peserta didik di dalam penguasaan seluruhkompetensi yang harus dikuasai sesuai Standar Kompetensi Nasional, sehingga merekamampu mengikuti uji level pada setiap akhir semester untuk Kelas X dan XI serta ujikompetensi untuk kelas XII yang dilaksanakan oleh pihak industri sebagai inatitusi pasangan.


BAB II
PEMBAHASANA

A.  Pengertian
Pendidikan Kejuruan menurut Rupert Evans (1978) mendefinisikan bahwa pendidikankejuruan adalah bagian dari sistim pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebihmampu berkerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang bidang perkerjaan lainnya.Sedangkan menurut Undang – Undang No.20 tentang Sistim Pendidikan Nasional :Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan perserta didik untuk dapat berkerja dalam bidang tertentu. Atau yang lebih spesifik dalam Peraturan Pemerintah No.29Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, yaitu : Pendidikan Menengah yangmengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.Dari definisi di atas dapat disimpulkan Pendidikan Kejuruan adalah Pendidikan yangmempersiapkan perserta didiknya untuk memasuki lapangan kerja.
B.Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri danmengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Dari tujuan pendidikan kejuruan tersebut mengandung makna bahwa pendidikan kejuruan di sampingmenyiapkan tenaga kerja yang profesional juga mempersiapkan peserta didik untuk dapatmelanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan program kejuruan atau bidang keahlian.Rupert Evans (1978) merumuskan pendidikan kejuruan bertujuan untuk:
1)Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja
2)Meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu
3)Mendorong motivasi untuk belajar terus.

Dalam Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1990 merumuskan bahwa PendidikanMenengah Kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja sertamengembangkan sikap profesional. Sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan Pasal 15 UU
SISDIKNAS, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutamauntuk bekerja dalam bidang tertentu.Dapat disimpulkan bahwa Tujuan Pendidikan Kejuruan adalah mempersiapkan perserta didik sebagai calon tenaga kerja dan mengembangkan eksistensi peserta didik, untuk kepentingan peserta didik, masyarakat, bangsa dan negara.
C.Model Pendidikan Kejuruan
Berdasarkan beberapa pendapat, terdapat beberapa Model Sistim Pendidikan Kejuruan :
1.Model Pasar (Market Model) merupakan sistim pendidikan yang merupakan tanggung jawab industri dan di jalankan sepenuhnya oleh industri. Pada model pasar pemerintahtidak terlibat dalam proses kualifikasi kejuruan. Model ini sering juga disebut ModelLiberal dan langsung di arahkan pada produksi dan pasaran kerja.
2.Model Sekolah (School Model) adalah pendidikan dimana pemerintah berperanmerencanakan, mengorganisasikan, dan memantau pelaksanaan pendidikan kejuruan.Model ini sering juga disebut Model Birokratik.
3.Model Sistim Ganda (Dual System) Merupakan perpaduan antara model pasar danmodel sekolah dalam hal ini pemerintah berperan sebagai pengawas model pasar,model ini disebut juga dual system.
4.Model Pendidikan Koperatif (Cooperative Education) Pendidikan kejuruan yangdiselenggarakan bersama antara sekolah dan perusahaan. Terbagi dalam dua macam :
a.School and Enterprise, pendidikan kejuruan yang merupakan tanggung jawab     
bersamaantara sekolah dan industri.
b.Training Center and Enterprise.
5.Informal Vocational Education.Sistim pendidikan yang lahir dengan sendirinya, atas inisiatif pribadi atau kelompok untuk memenuhi ketrampilan yang tidak dapat dipenuhi di pendidikan formal.

D.Materi Yang Diajarkan
Secara umum materi program pendidikan untuk program pendidikan sebagai berikut:
1.Komponen Pendidikan Umum (Normatif)Yaitu untuk membentuk siswa/siswi      menjadi warga negara yang baik, memiliki watak dan kebribadian sebagai warga negara dan bangsa Indonesia.
2.Komponen Pendidikan Dasar (Adaptif)Yaitu untuk memberi bekal penunjang bagi siswa/siswi dalam penguasaan keahlian profesi dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perkembangan ilmu danteknologi.
3.Komponen Pendidikan dan Pelatihan KejuruanYaitu materi yang berkaitan dengan pembentukan keahlian siswa/siswi terutama di bidang multi media. Selanjutnya komponen pendidikan dan pelatihan kejuruan ini dibagi lagimenjadi:
a.Teori Kejuruan, untuk membekali pengetahuan siswa dan siswi tentang teori kejuruandi bidang multi media.
b.Praktek Dasar Kejuruan, yakni berupa latihan dasar untuk menguasai teknik bekerjasecara baik dan benar sesuai dengan persyaratan keahlian profesi.
c.Praktek Keahlian Produktif, berupa kegiatan praktek secara langsung dan terprogramdalam situasi yang sebenarnya untuk mencapai keahlian dan sikap kerja professional.
E.Tuntutan Perkembangan Pendidkan Kejuruan
Perkembangan teknologi menuntut adanya perkembangan pula pada pendidikankejuruan, karena saat ini tatanan kehidupan pada umumnya dan tatanan perekonomian padakhususnya sedang mengalami pergeseran paradigma ke arah global. Pergeseran ini akanmembuka peluang kerja sama antar Negara semakin terbuka dan di sisi lain, persaingan antar  Negara semakin ketat. Untuk meningkatkan kemampuan persaingan dalam perdagangan bebas, diperlukan serangkaian kekuatan daya saing yang tangguh, antara lain kemampuanmanajemen, teknologi dan sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan sumber daya aktif yang dapat menentukan kelangsungan hidup dan kemenangan dalam persaingansuatu bangsa.Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan sumber dayamanusia yang tangguh untuk menghadapi persaingan bebas. Termasuk pendidikan kejuruanyang menyiapkan peserta didik atau sumber daya manusia yang memiliki kemampuan kerjasebagai tenaga kerja menengah sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri. Olehkarena itu sesuai dengan tuntutan perkembangan pendidikan kejuruan, maka perlu adanya pembaharuan pendidikan dan pelatihan kejuruan di SMK untuk masa depan.
1.Tuntutan peserta didik
Pendidikan kejuruan memiliki peran untuk menyiapkan peserta didik agar siap bekerja, baik bekerja secara mandiri (wiraswasta) maupun mengisi lowongan pekerjaan yangada. SMK sebagai salah satu institusi yang menyiapkan tenaga kerja, dituntut mampumenghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan dunia kerja. Tenaga kerja yangdibutuhkan adalah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi dan daya saing yang tinggi. Atas dasar itu, pengembangan kurikulum dalam rangka penyempurnaan pendidikan menengah kejuruanharus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dunia kerja.Tuntutan peserta didik dan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja perludijadikan sumber pijakan di dalam merumuskan tujuan pendidikan kejuruan. SekolahMenengah Kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimanaditegaskan dalam penjelasan Pasal 15 UU SISDIKNAS, merupakan pendidikan menengahyang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, yangdirumuskan dalam tujuan umum dan tujuan khusus sebagai berikut.
a.Tujuan Umum :
1)Meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa
2)Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi warga Negara yang berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab.
3)Mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan,memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia
4)Mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkunganhidup, dengan secara aktif turut memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, sertamemanfaatkan sumber daya alam dengan efektif dan efisien.
b.Tujuan Khusus :
1)Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, maupun bekerja mandiri,mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenagatingkat kerja menengah, sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yangdipilihnya.
 2)Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesionaldalam bidang keahlian yang diminatinya.
3)Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agar mampumengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi4)Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi sesuai dengan programkeahlian yang dipilih.
2.Tuntutan menjawab kebutuhan masyarakat
Ditinjau dari perspektif perkembangan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas duiausaha/industri, sekurang-kurangnya tiga dimensi pokok yang menjadi tantangan bagi SMK, baik dalam konteks regional maupun nasional, diantaranya :
a.Implementasi program pendidikan dan pelatihan harus berfokus pada pendayagunaan potensi sumber daya lokal, sambil mengoptimalkan kerjasama secara intensif denganinstitusi pasangan
b.Pelaksanaan kurikulum harus berdasarkan pendekatan yang lebih fleksibel sesuaidengan trend perkembangan dan kemajuan teknologi agar kompetensi yang diperoleh peserta didik selama dan sesudah mengikuti program diklat, memiliki daya adaptasiyang tinggi
c.Program pendidikan dan pelatihan sepenuhnya harus berorientasimastery learning
(belajar tuntas) dengan melibatkan peran aktif – partisipatif parastakeholders pendidikan, termasuk optimalisasi peran Pemerintah Daerah untuk merumuskan pemetaan kompetensi ketenagakerjaan di daerahnya sebagai input bagi SMK dalam penyelenggaraan diklat berkelanjutan.
Untuk mencari solusi dari tantangan tersebut di atas, SMK sebagai salah satu lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan kejuruan harus mampu memberikan layanan pendidikan terbaik kepada peserta didik walaupun kondisi fasilitasnya sangat beragam.Seperti diketahui, bahwa investasi dan pembiayaan operasional terbesar yang dilakukan oleh pemerintah dalam pendidikan kejuruan adalah pada sistem SMK. Upaya untuk mempertahan SMK yang dapat menjawab tuntutan kebutuhanmasyarakat, dalam hal ini SMK harus mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik.Dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut, maka pendidikan dan pelatihan di SMK  perlu memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang dikemukakan Prosser (Djojonegoro, 1998); sebagai berikut :
a)      Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakanreplika lingkungan dimana nanti ia akan bekerja.
b)      Pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihandilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempatkerja.
c)      Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia melatih seseorang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendri
d)     Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia dapat memampukan setiap individumemodali minatnya, pengetahuannya dan keterampilannya pada tingkat yang paling tinggi
e)      Pendidikan kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanyadapat diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya danyang dapat untung darinya
f)       Pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfkir yang benar diulangkan sehingga pas sepertiyang diperlukan dalam pekerjaan nantinya
g)      Pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yangsukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerjayang akan dilakukan
h)      Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorangagar dia tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut
i)        Pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja)
j)        Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa akan tercapai jika pelatihandiberikan pada pekerjaan yang nyata
k)      Sumber yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu okupasitersebut
l)        Setiap okupasi mempunyai ciri-ciri isi (body of content ) yang berbeda-beda satudengan yang lainnya
m)    Pendidikan kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengankebutuhan seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jikadilakukan lewat pengajaran kejuruan
n)      Pendidikan kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan danhubungan pribadi dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut
o)      Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien jika dia luwes dan mengalir daripadakaku dan terstandar 
p)      Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi.
3.Tuntutan pengelolaan pendidikan kejuruan
Tuntutan pengelolaan pada pendidikan kejuruan harus sesuai dengan kebijakan
link and match, yaitu perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit menjadi pendidikan kejuruan sebagai program pengembangan sumber daya manusia. Dimensi pembaharuan yang diturunkan darikebijakan link and match , yaitu :
a.Perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven
b.Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda (Dual Based Program)
c.Perubahan dari model pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran berbasis kompetensi
d.Perubahan dari program dasar yang sempit (Narrow Based) ke program dasar yangmendasar, kuat dan luas (Broad Based)
e.Perubahan dari sistem pendidikan formal yang kaku, ke sistem yang luwes danmenganut prinsip multy entry, multy exit
f.Perubahan dari sistem yang tidak mengakui keahlian yang telah diperolehsebelumnya, ke sistem yang mengakui keahlian yang diperoleh dari mana dan dengancara apapun kompetensi itu diperoleh (Recognition of prior learning)
g.Perubahan dari pemisahan antara pendidikan dengan pelatihan kejuruan, ke sistem baru yang mengintegrasikan pendidikan dan pelatihan kejuruan secara terpadu
h.Perubahan dari sistem terminal ke sistem berkelanjutan
i.Perubahan dari manajemen terpusat ke pola manajemen mandiri (prinsipdesentralisasi) j.Perubahan dari ketergantungan sepenuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, keswadana dengan subsidi pemerintah pusat
F.KEADAAN SISWA, LULUSAN SEHARUSNYA DAN KENYATAANLULUSAN SEHARUSNYA:
Bulter (1979) menjelaskan bahwa kriteria lulusan pendidikan kejuruan secara umumharus memiliki kecakapan :
1.Minimal, pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk jabatannya
2.Minimal, pengetahuan dan ketrampilan sosial, emosional dan fisik dalam kehidupansosial.
3.Minimal, pengetahuan dan ketrampilan khusus dasar
4.Maksimal, kejujuran umum, sosial serta pengetahuan dan ketrampilan akademik untuk jabatan, individu dan masa depannya.
Mutu produk pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kurikulum, tenagakependidikan, proses pembelajaran, sarana-prasarana, alat-bahan, manajemen sekolah,lingkungan (iklim) kerja dan kerjasama industri.Berdasarkan Kurikulum 2004 yang Berbasis Kompetensi, lulusan pendidikankejuruan harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang lebih mendalam dan spesifik  pada bidang pekerjaan tertentu. Siswa baru dinyatakan dapat meninggalkan sekolah apabilatelah memiliki kompetensi–kompetensi yang di syaratkan dengan melalui sertfifikasi olehLembaga Sertifikasi Profesi atau pihak industri yang berkompeten. Dengan demikian lulusan pendidikan kejuruan siap untuk memasuki dunia kerja dan mampu menyesuaikan diri denganmasyarakat / dunia kerja.
Kenyataan Lulusan:
Hasil observasi empirik di lapangan mengindikasikan, bahwa sebagian besar lulusansekolah menengah kejuruan (SMK) kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahanmaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa dilatih kembali, dankurang bisa mengembangkan diri. Temuan tersebut tampaknya mengindikasi bahwa pembelajaran di SMK belum banyak menyentuh atau mengembangkan kemampuan adaptasi peserta didik. Studi itu juga memperoleh gambaran bahwa sebagian lulusan SMK tidak bisadiserap di lapangan kerja, karena kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengantuntutan dunia kerja, fenomena yang terjadi pada lulusan pendidikan kejuruan adalah :
1.Pengetahuan dan ketrampilan dasar pada bidang tertentu masih lemah, sehinggakepercayaan diri dalam memasuki lapangan kerja kurang atau bahkan belum siapsama sekali.
2.Tidak mempunyai orientasi masa depan atau visi kedepan yang tidak jelas.
3.Industri tidak percaya pada kemampuan pengetahuan dan ketrampilan lulusan pendidikan kejuruan, yang seharusnya mutu lulusan pendidikan kejuruan jugamerupakan tanggung jawab moral industri.


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
            Sekolah menengah kejuruan merupakan sekolah tingkat lanjutan dimana memproritaskan siswanya untuk siap kerja, karna setelah menempu pendidikan selama 3 tahun lamanya, siswa tersebut telah dibekali keterampilan sesuai dengan jurusan yang dia geluti. Karna sekolah menengah kejuruan memang lebih dominan mempelajari apa yang menjadi bidannya. dan bukan hanya materi semata,tetapi siswa SMK juga unggul dalam pengaplikasian atau praktek apa yang menjadi bidangnya. Sehingga dia dapat menjadi andal dalam bidang yang dia geluti tersebut. Tapi tidak menutup kemungkinan siswa dari sekolah menengah kejuruan juga dapat melanjutkan studinya hingga jenjang yang lebih tinggi. Dengan mengembangkan bakat dasar yang dia miliki ataupun bakat yang belum dia miliki.




DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan. 2012. “Perkembangan Sekolah Menengah Kejuruan.”
         http://mesujicoz64.blogspot.com, diakses 5 Maret 2015).

Prasetia. 2012. Tantangan Bagi Sekolah Menengah Kejuruan.
         http://yasonawaruwu.blogspot.com, diakses 5 Maret 2015).




0 komentar:

Posting Komentar