BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan
dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengangencarnya
inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan
yangselaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan
prosesmengaktualisasikan semua potensi yang dimiliki menjadi kemampuan yang
dapatdimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas.Tingkat
keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat
bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa dalam mengoptimalkan
danmemaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki. Upaya
tersebutdapat dilakukan dan ditempuh melalui pendidikan, baik melalui jalur
pendidikan formalmaupun jalur pendidikan non formal. Salah satu lembaga pada jalur
pendidikan formal yangmenyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia
kerja, diantaranya melalui jalur
pendidikan kejuruan.Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia
diantaranya adalah SekolahMenengah Kejuruan (SMK), dirancang untuk menyiapkan
peserta didik atau lulusan yangsiap memasuki dunia kerja dan mampu
mengembangkan sikap profesional di bidangkejuruan. Lulusan pendidikan kejuruan,
diharapkan menjadi individu yang produktif yangmampu bekerja menjadi tenaga
kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja.
Kehadiran SMK sekarang ini semakin didambakan masyarakat; khususnyamasyarakat
yang berkecimpung langsung dalam dunia kerja. Dengan catatan, bahwa lulusan
pendidikan kejuruan memang mempunyai kualifikasi sebagai (calon) tenaga kerja
yangmemiliki keterampilan vokasional tertentu sesuai dengan bidang
keahliannya.Kurikulum yang diimplementasikan di SMK saat ini, khusus untuk
kelompok produktif masih menggunakan
kurikulum tahun 2004, sedangkan untuk kelompok normatif dan adaptif sudah
menggunakan model pengelolaan kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP) 2006.
Pada tataran implementasi kurikulum ini mauntut kreativitas guru di
dalammemberikan pengalaman belajar yang dapat meningkatkan kompetensi peserta
didik, karena betapapun baiknya kurikulum yang telah direncanakan pada akhirnya
berhasil atau tidaknyasangat tergantung pada sentuhan aktivitas dan kreativitas
guru sebagai ujung tombak implementasi suatu kurikulum. Pendidikan dan
pelatihan di SMK; khususnya pada program produktif yang sesuaidengan bidang
keahlian, secara ideal dituntut untuk menerapkan pendekatan pembelajaranyang
mampu memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik di dalam
penguasaankompetensi atau kemampuan kerja sesuai dengan tuntutan dunia usaha
dan industri.Pendekatan pembelajaran tersebut terdiri dari : Pelatihan Berbasis
Kompetensi (Competency Based Training ), Pelatihan Berbasis Produksi
(Production Based Training ) dan PelatihanBerbasis Industri. Dengan menerapkan
pendekatan pembelajaran ini diharapkan mampumemberikan pengalaman belajar
kepada peserta didik di dalam penguasaan seluruhkompetensi yang harus dikuasai
sesuai Standar Kompetensi Nasional, sehingga merekamampu mengikuti uji level
pada setiap akhir semester untuk Kelas X dan XI serta ujikompetensi untuk kelas
XII yang dilaksanakan oleh pihak industri sebagai inatitusi pasangan.
BAB II
PEMBAHASANA
A. Pengertian
Pendidikan
Kejuruan menurut Rupert Evans (1978) mendefinisikan bahwa pendidikankejuruan
adalah bagian dari sistim pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar
lebihmampu berkerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan
daripada bidang bidang perkerjaan lainnya.Sedangkan menurut Undang – Undang
No.20 tentang Sistim Pendidikan Nasional :Pendidikan kejuruan merupakan
pendidikan yang mempersiapkan perserta didik untuk dapat berkerja dalam bidang
tertentu. Atau yang lebih spesifik dalam Peraturan Pemerintah No.29Tahun 1990
tentang Pendidikan Menengah, yaitu : Pendidikan Menengah yangmengutamakan
pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.Dari
definisi di atas dapat disimpulkan Pendidikan Kejuruan adalah Pendidikan
yangmempersiapkan perserta didiknya untuk memasuki lapangan kerja.
B.Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan
kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri danmengikuti
pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Dari tujuan
pendidikan kejuruan tersebut mengandung makna bahwa pendidikan kejuruan di
sampingmenyiapkan tenaga kerja yang profesional juga mempersiapkan peserta
didik untuk dapatmelanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai
dengan program kejuruan atau bidang keahlian.Rupert Evans (1978) merumuskan pendidikan
kejuruan bertujuan untuk:
1)Memenuhi
kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja
2)Meningkatkan
pilihan pendidikan bagi setiap individu
3)Mendorong motivasi untuk belajar
terus.
Dalam
Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1990 merumuskan bahwa PendidikanMenengah
Kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja
sertamengembangkan sikap profesional. Sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai
bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan Pasal
15 UU
SISDIKNAS,
merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutamauntuk
bekerja dalam bidang tertentu.Dapat disimpulkan bahwa Tujuan Pendidikan
Kejuruan adalah mempersiapkan perserta didik sebagai calon tenaga kerja dan
mengembangkan eksistensi peserta didik, untuk kepentingan peserta didik,
masyarakat, bangsa dan negara.
C.Model Pendidikan Kejuruan
Berdasarkan
beberapa pendapat, terdapat beberapa Model Sistim Pendidikan Kejuruan :
1.Model
Pasar (Market Model) merupakan sistim pendidikan yang merupakan tanggung jawab
industri dan di jalankan sepenuhnya oleh industri. Pada model pasar
pemerintahtidak terlibat dalam proses kualifikasi kejuruan. Model ini sering
juga disebut ModelLiberal dan langsung di arahkan pada produksi dan pasaran
kerja.
2.Model
Sekolah (School Model) adalah pendidikan dimana pemerintah
berperanmerencanakan, mengorganisasikan, dan memantau pelaksanaan pendidikan
kejuruan.Model ini sering juga disebut Model Birokratik.
3.Model
Sistim Ganda (Dual System) Merupakan perpaduan antara model pasar danmodel
sekolah dalam hal ini pemerintah berperan sebagai pengawas model pasar,model
ini disebut juga dual system.
4.Model
Pendidikan Koperatif (Cooperative Education) Pendidikan kejuruan
yangdiselenggarakan bersama antara sekolah dan perusahaan. Terbagi dalam dua
macam :
a.School and
Enterprise, pendidikan kejuruan yang merupakan tanggung jawab
bersamaantara
sekolah dan industri.
b.Training
Center and Enterprise.
5.Informal
Vocational Education.Sistim pendidikan yang lahir dengan sendirinya, atas
inisiatif pribadi atau kelompok untuk memenuhi ketrampilan yang tidak dapat
dipenuhi di pendidikan formal.
D.Materi Yang Diajarkan
Secara
umum materi program pendidikan untuk program pendidikan sebagai berikut:
1.Komponen Pendidikan Umum (Normatif)Yaitu
untuk membentuk siswa/siswi menjadi
warga negara yang baik, memiliki watak dan kebribadian sebagai warga negara dan
bangsa Indonesia.
2.Komponen Pendidikan Dasar
(Adaptif)Yaitu untuk memberi bekal penunjang bagi siswa/siswi dalam penguasaan
keahlian profesi dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti
perkembangan ilmu danteknologi.
3.Komponen Pendidikan dan Pelatihan
KejuruanYaitu materi yang berkaitan dengan pembentukan keahlian siswa/siswi
terutama di bidang multi media. Selanjutnya komponen pendidikan dan pelatihan
kejuruan ini dibagi lagimenjadi:
a.Teori Kejuruan, untuk membekali
pengetahuan siswa dan siswi tentang teori kejuruandi bidang multi media.
b.Praktek Dasar Kejuruan, yakni berupa
latihan dasar untuk menguasai teknik bekerjasecara baik dan benar sesuai dengan
persyaratan keahlian profesi.
c.Praktek Keahlian Produktif, berupa
kegiatan praktek secara langsung dan terprogramdalam situasi yang sebenarnya
untuk mencapai keahlian dan sikap kerja professional.
E.Tuntutan Perkembangan Pendidkan
Kejuruan
Perkembangan
teknologi menuntut adanya perkembangan pula pada pendidikankejuruan, karena
saat ini tatanan kehidupan pada umumnya dan tatanan perekonomian padakhususnya
sedang mengalami pergeseran paradigma ke arah global. Pergeseran ini
akanmembuka peluang kerja sama antar Negara semakin terbuka dan di sisi lain,
persaingan antar Negara semakin ketat.
Untuk meningkatkan kemampuan persaingan dalam perdagangan bebas, diperlukan
serangkaian kekuatan daya saing yang tangguh, antara lain kemampuanmanajemen,
teknologi dan sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan sumber daya
aktif yang dapat menentukan kelangsungan hidup dan kemenangan dalam
persaingansuatu bangsa.Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam
mewujudkan sumber dayamanusia yang tangguh untuk menghadapi persaingan bebas.
Termasuk pendidikan kejuruanyang menyiapkan peserta didik atau sumber daya
manusia yang memiliki kemampuan kerjasebagai tenaga kerja menengah sesuai
dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri. Olehkarena itu sesuai dengan
tuntutan perkembangan pendidikan kejuruan, maka perlu adanya pembaharuan
pendidikan dan pelatihan kejuruan di SMK untuk masa depan.
1.Tuntutan peserta didik
Pendidikan
kejuruan memiliki peran untuk menyiapkan peserta didik agar siap bekerja, baik
bekerja secara mandiri (wiraswasta) maupun mengisi lowongan pekerjaan yangada.
SMK sebagai salah satu institusi yang menyiapkan tenaga kerja, dituntut
mampumenghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan dunia kerja. Tenaga kerja
yangdibutuhkan adalah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai
dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi dan daya saing yang tinggi.
Atas dasar itu, pengembangan kurikulum dalam rangka penyempurnaan pendidikan
menengah kejuruanharus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dunia
kerja.Tuntutan peserta didik dan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia
kerja perludijadikan sumber pijakan di dalam merumuskan tujuan pendidikan
kejuruan. SekolahMenengah Kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan
kejuruan sebagaimanaditegaskan dalam penjelasan Pasal 15 UU SISDIKNAS,
merupakan pendidikan menengahyang mempersiapkan peserta didik terutama untuk
bekerja dalam bidang tertentu, yangdirumuskan dalam tujuan umum dan tujuan
khusus sebagai berikut.
a.Tujuan
Umum :
1)Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa
2)Mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi warga Negara yang berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, demokratis dan bertanggung jawab.
3)Mengembangkan potensi peserta didik
agar memiliki wawasan kebangsaan,memahami dan menghargai keanekaragaman budaya
bangsa Indonesia
4)Mengembangkan potensi peserta didik
agar memiliki kepedulian terhadap lingkunganhidup, dengan secara aktif turut
memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, sertamemanfaatkan sumber daya
alam dengan efektif dan efisien.
b.Tujuan Khusus :
1)Menyiapkan peserta didik agar menjadi
manusia produktif, maupun bekerja mandiri,mengisi lowongan pekerjaan yang ada
di dunia usaha dan industri sebagai tenagatingkat kerja menengah, sesuai dengan
kompetensi dalam program keahlian yangdipilihnya.
2)Menyiapkan
peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi,
beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesionaldalam
bidang keahlian yang diminatinya.
3)Membekali peserta didik dengan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni, agar mampumengembangkan diri di kemudian hari
baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi4)Membekali
peserta didik dengan kompetensi-kompetensi sesuai dengan programkeahlian yang
dipilih.
2.Tuntutan menjawab kebutuhan
masyarakat
Ditinjau
dari perspektif perkembangan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas
duiausaha/industri, sekurang-kurangnya tiga dimensi pokok yang menjadi
tantangan bagi SMK, baik dalam konteks regional maupun nasional, diantaranya :
a.Implementasi program pendidikan dan
pelatihan harus berfokus pada pendayagunaan potensi sumber daya lokal, sambil
mengoptimalkan kerjasama secara intensif denganinstitusi pasangan
b.Pelaksanaan kurikulum harus
berdasarkan pendekatan yang lebih fleksibel sesuaidengan trend perkembangan dan
kemajuan teknologi agar kompetensi yang diperoleh peserta didik selama dan
sesudah mengikuti program diklat, memiliki daya adaptasiyang tinggi
c.Program pendidikan dan pelatihan
sepenuhnya harus berorientasimastery learning
(belajar
tuntas) dengan melibatkan peran aktif – partisipatif parastakeholders
pendidikan, termasuk optimalisasi peran Pemerintah Daerah untuk merumuskan
pemetaan kompetensi ketenagakerjaan di daerahnya sebagai input bagi SMK dalam
penyelenggaraan diklat berkelanjutan.
Untuk
mencari solusi dari tantangan tersebut di atas, SMK sebagai salah satu lembaga
penyelenggara pendidikan dan pelatihan kejuruan harus mampu memberikan layanan
pendidikan terbaik kepada peserta didik walaupun kondisi fasilitasnya sangat
beragam.Seperti diketahui, bahwa investasi dan pembiayaan operasional terbesar
yang dilakukan oleh pemerintah dalam pendidikan kejuruan adalah pada sistem
SMK. Upaya untuk mempertahan SMK yang dapat menjawab tuntutan
kebutuhanmasyarakat, dalam hal ini SMK harus mampu menjalankan peran dan
fungsinya dengan baik.Dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut, maka
pendidikan dan pelatihan di SMK perlu
memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang dikemukakan Prosser
(Djojonegoro, 1998); sebagai berikut :
a) Pendidikan
kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakanreplika
lingkungan dimana nanti ia akan bekerja.
b) Pendidikan
kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihandilakukan
dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempatkerja.
c) Pendidikan
kejuruan akan efektif jika dia melatih seseorang dalam kebiasaan berpikir dan
bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendri
d) Pendidikan
kejuruan akan efektif jika dia dapat memampukan setiap individumemodali
minatnya, pengetahuannya dan keterampilannya pada tingkat yang paling tinggi
e) Pendidikan
kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanyadapat
diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya danyang
dapat untung darinya
f) Pendidikan
kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja
dan kebiasaan berfkir yang benar diulangkan sehingga pas sepertiyang diperlukan
dalam pekerjaan nantinya
g) Pendidikan
kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yangsukses dalam
penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerjayang akan
dilakukan
h) Pada
setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorangagar dia
tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut
i)
Pendidikan kejuruan harus memperhatikan
permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja)
j)
Proses pembinaan kebiasaan yang efektif
pada siswa akan tercapai jika pelatihandiberikan pada pekerjaan yang nyata
k) Sumber
yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu okupasitersebut
l)
Setiap okupasi mempunyai ciri-ciri isi
(body of content ) yang berbeda-beda satudengan yang lainnya
m) Pendidikan
kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengankebutuhan
seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jikadilakukan lewat
pengajaran kejuruan
n) Pendidikan
kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan danhubungan pribadi
dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut
o) Administrasi
pendidikan kejuruan akan efisien jika dia luwes dan mengalir daripadakaku dan
terstandar
p) Pendidikan
kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan
kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi.
3.Tuntutan pengelolaan pendidikan
kejuruan
Tuntutan
pengelolaan pada pendidikan kejuruan harus sesuai dengan kebijakan
link
and match, yaitu perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan
demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit menjadi
pendidikan kejuruan sebagai program pengembangan sumber daya manusia. Dimensi
pembaharuan yang diturunkan darikebijakan link and match , yaitu :
a.Perubahan dari pendekatan Supply
Driven ke Demand Driven
b.Perubahan dari pendidikan berbasis
sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda (Dual Based Program)
c.Perubahan dari model pengajaran yang
mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran berbasis kompetensi
d.Perubahan dari program dasar yang
sempit (Narrow Based) ke program dasar yangmendasar, kuat dan luas (Broad
Based)
e.Perubahan dari sistem pendidikan
formal yang kaku, ke sistem yang luwes danmenganut prinsip multy entry, multy
exit
f.Perubahan dari sistem yang tidak
mengakui keahlian yang telah diperolehsebelumnya, ke sistem yang mengakui
keahlian yang diperoleh dari mana dan dengancara apapun kompetensi itu
diperoleh (Recognition of prior learning)
g.Perubahan dari pemisahan antara
pendidikan dengan pelatihan kejuruan, ke sistem baru yang mengintegrasikan
pendidikan dan pelatihan kejuruan secara terpadu
h.Perubahan dari sistem terminal ke
sistem berkelanjutan
i.Perubahan dari manajemen terpusat ke
pola manajemen mandiri (prinsipdesentralisasi) j.Perubahan dari ketergantungan
sepenuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, keswadana dengan subsidi
pemerintah pusat
F.KEADAAN
SISWA, LULUSAN SEHARUSNYA DAN KENYATAANLULUSAN SEHARUSNYA:
Bulter
(1979) menjelaskan bahwa kriteria lulusan pendidikan kejuruan secara umumharus
memiliki kecakapan :
1.Minimal,
pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk jabatannya
2.Minimal,
pengetahuan dan ketrampilan sosial, emosional dan fisik dalam kehidupansosial.
3.Minimal,
pengetahuan dan ketrampilan khusus dasar
4.Maksimal,
kejujuran umum, sosial serta pengetahuan dan ketrampilan akademik untuk
jabatan, individu dan masa depannya.
Mutu
produk pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran
yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kurikulum,
tenagakependidikan, proses pembelajaran, sarana-prasarana, alat-bahan,
manajemen sekolah,lingkungan (iklim) kerja dan kerjasama industri.Berdasarkan
Kurikulum 2004 yang Berbasis Kompetensi, lulusan pendidikankejuruan harus
mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang lebih mendalam dan spesifik pada bidang pekerjaan tertentu. Siswa baru
dinyatakan dapat meninggalkan sekolah apabilatelah memiliki
kompetensi–kompetensi yang di syaratkan dengan melalui sertfifikasi olehLembaga
Sertifikasi Profesi atau pihak industri yang berkompeten. Dengan demikian
lulusan pendidikan kejuruan siap untuk memasuki dunia kerja dan mampu
menyesuaikan diri denganmasyarakat / dunia kerja.
Kenyataan
Lulusan:
Hasil
observasi empirik di lapangan mengindikasikan, bahwa sebagian besar
lulusansekolah menengah kejuruan (SMK) kurang mampu menyesuaikan diri dengan
perubahanmaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa
dilatih kembali, dankurang bisa mengembangkan diri. Temuan tersebut tampaknya
mengindikasi bahwa pembelajaran di SMK belum banyak menyentuh atau
mengembangkan kemampuan adaptasi peserta didik. Studi itu juga memperoleh
gambaran bahwa sebagian lulusan SMK tidak bisadiserap di lapangan kerja, karena
kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengantuntutan dunia kerja, fenomena
yang terjadi pada lulusan pendidikan kejuruan adalah :
1.Pengetahuan dan ketrampilan dasar pada
bidang tertentu masih lemah, sehinggakepercayaan diri dalam memasuki lapangan
kerja kurang atau bahkan belum siapsama sekali.
2.Tidak mempunyai orientasi masa depan
atau visi kedepan yang tidak jelas.
3.Industri tidak percaya pada kemampuan
pengetahuan dan ketrampilan lulusan pendidikan kejuruan, yang seharusnya mutu
lulusan pendidikan kejuruan jugamerupakan tanggung jawab moral industri.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Sekolah
menengah kejuruan merupakan sekolah tingkat lanjutan dimana memproritaskan
siswanya untuk siap kerja, karna setelah menempu pendidikan selama 3 tahun
lamanya, siswa tersebut telah dibekali keterampilan sesuai dengan jurusan yang
dia geluti. Karna sekolah menengah kejuruan memang lebih dominan mempelajari
apa yang menjadi bidannya. dan bukan hanya materi semata,tetapi siswa SMK juga
unggul dalam pengaplikasian atau praktek apa yang menjadi bidangnya. Sehingga
dia dapat menjadi andal dalam bidang yang dia geluti tersebut. Tapi tidak
menutup kemungkinan siswa dari sekolah menengah kejuruan juga dapat melanjutkan
studinya hingga jenjang yang lebih tinggi. Dengan mengembangkan bakat dasar
yang dia miliki ataupun bakat yang belum dia miliki.
DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan. 2012. “Perkembangan Sekolah Menengah
Kejuruan.”
http://mesujicoz64.blogspot.com, diakses 5 Maret 2015).
Prasetia.
2012. “Tantangan
Bagi Sekolah Menengah Kejuruan.”
http://yasonawaruwu.blogspot.com, diakses 5 Maret 2015).
0 komentar:
Posting Komentar